Ketika Pandora di Layar Lebar Terasa Lebih Nyata dari Berita Pagi Hari
Saya baru saja menonton Avatar: Fire and Ash beberapa hari lalu. Film ketiga dari trilogi James Cameron spektakuler ini seharusnya membuat saya terpesona dengan visual Pandora yang memukau. Hutan bioluminescent, lautan kristal, dan wilayah vulkanik yang dramatis. Namun, saya merasakan terdapat sesuatu yang jauh lebih mengganggu: rasa déjà vu. Setiap adegan eksploitasi sumber daya alam, setiap pembantaian makhluk hidup demi profit, setiap penggusuran masyarakat pribumi dari tanah leluhur mereka, semua itu terasa begitu familiar. Terlalu familiar. Karena semua itu bukan hanya cerita fiksi ilmiah di planet jauh bernama Pandora. Ini adalah cerminan nyata dari apa yang terjadi di Indonesia, negara kita sendiri.
Trilogi Avatar bukan sekadar hiburan blockbuster dengan budget ratusan juta dollar. Ini adalah tamparan keras. Sebuah cermin yang memaksa kita melihat keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam. Dan ironisnya, kita tidak perlu pergi ke Pandora untuk menyaksikan tragedi serupa. Cukup buka berita pagi, dan kita akan menemukan Pandora versi Indonesia: hutan Sumatera yang gundul menjadi pemicu banjir mematikan, masyarakat adat Suku Balik yang tergusur dari tanah leluhur mereka demi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), dan perburuan paus di Lamalera yang terus berlangsung meski populasi paus terancam punah. Avatar 1, 2, dan 3 bukan lagi sekadar film, ini adalah dokumenter masa depan kita jika kita terus membiarkan keserakahan menguasai kebijakan lingkungan.
1. Hutan Pandora Vs. Hutan Sumatera: Sama-Sama Dihabisi Demi 'Kemajuan’
Di film Avatar pertama (2009), kita melihat bagaimana Resources Development Administration (RDA) menghancurkan Hometree, pohon suci Na'vi yang menjadi pusat kehidupan spiritual dan ekologis mereka demi menambang Unobtanium. Bulldozer raksasa merobohkan pepohonan, mesin-mesin berat mengoyak tanah, dan ekosistem yang telah terjaga ribuan tahun hancur dalam hitungan jam. Adegan itu membuat banyak penonton menangis. Tetapi apakah kita menangis untuk hal yang sama ketika membaca berita banjir bandang Sumatera November 2025 yang menewaskan lebih dari 600 orang?
Data dari Greenpeace Indonesia menunjukkan fakta yang mengerikan: dalam kurun 1990-2024, mayoritas Daerah Aliran Sungai (DAS) di Pulau Sumatera telah kritis dengan tutupan hutan alam kini kurang dari 25%. Secara keseluruhan, kini tinggal 10-14 juta hektare hutan alam atau kurang dari 30% luas Pulau Sumatera yang 47 juta hektare. Lebih parah lagi, Forest Watch Indonesia mencatat bahwa dalam 7 tahun terakhir, Sumatera kehilangan sekitar 2,1 juta hektare hutan alam, setara dengan 3,6 kali luas Pulau Bali. Hanya dalam periode 2023-2024 saja, 222 ribu hektare hutan alam hilang, atau setara dengan 50 kali luas lapangan sepakbola setiap jamnya.
Peneliti senior Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, menegaskan bahwa tragedi banjir bandang yang melanda Sumatera pada November 2025 sejatinya merupakan akumulasi 'dosa ekologis' di hulu DAS. Cuaca ekstrem saat itu hanya pemicu, daya rusak yang terjadi tak lepas dari parahnya kerusakan lingkungan di wilayah hulu hingga hilir DAS. Dr. Hatma Suryatmojo dari Universitas Gajah Mada (UGM) menambahkan bahwa kerusakan ekosistem hutan di hulu telah menghilangkan daya dukung dan daya tampung untuk meredam curah hujan tinggi.
Apa bedanya ini dengan yang terjadi di Pandora? Di Pandora, RDA menebang Hometree untuk Unobtanium. Di Indonesia, 631 perusahaan ekstraktif, mulai dari sawit, pertambangan, hingga proyek-proyek energi seperti panas bumi, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan Pembangkit Listrik Tenagah Minihidro (PLTM) menghancurkan hutan untuk profit. Kerugian ekonomi dari bencana ekologis di Sumatera periode November 2025 diproyeksikan mencapai Rp68,67 triliun. Angka ini mencakup kerusakan rumah penduduk, kehilangan pendapatan rumah tangga, rusaknya infrastruktur, dan kehilangan produksi lahan pertanian. Tetapi berapa nilai nyawa 600+ orang yang meninggal? Berapa harga trauma ribuan anak yang kehilangan orangtua? Tidak ada angka yang bisa mengukur itu.
Yang paling menyakitkan adalah pola yang berulang. Sama seperti di Avatar di mana RDA terus kembali dengan alasan yang berbeda tetapi motif yang sama ‘eksploitasi’ di Indonesia pun kita melihat pola serupa. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sendiri membuka data bahwa deforestasi di Aceh meningkat 426,59% dalam lima tahun terakhir (dari 1.918 Hektare pada 2020 menjadi Hektare pada 2024-September 2025). Di Sumatera Utara naik 398,13%, dan di Sumatera Barat naik 637,08%. Ini bukan lagi 'pembangunan' ini adalah pembantaian ekosistem yang sistematis.
2. Na'vi Tergusur, Suku Balik Tergusur: Masyarakat Adat Selalu Jadi Korban
Salah satu momen paling heartbreaking di Avatar adalah ketika Jake Sully harus membujuk klan Omaticaya untuk meninggalkan Hometree mereka karena akan dimusnahkan oleh RDA. Neytiri berteriak dengan penuh luka: 'You are like a baby, making noise, don't know what to do.' Dia tidak hanya kehilangan rumah, dia kehilangan identitas, sejarah, dan koneksi spiritual dengan leluhurnya. Itulah yang terjadi ketika masyarakat pribumi dipaksa meninggalkan tanah leluhur mereka.
Sekarang, mari kita bicara tentang Suku Balik di Kalimantan Timur. Mereka adalah masyarakat adat yang telah hidup di wilayah yang kini menjadi kawasan IKN sejak ratusan tahun lalu bahkan sejak masa penjajahan Jepang. Mereka hidup harmonis dengan alam, mengandalkan hutan dan tanah sebagai lahan bercocok tanam, serta sungai untuk transportasi dan kehidupan sehari-hari. Lalu datanglah 'kemajuan' bernama IKN Nusantara.
Pada 4 Maret 2024, Deputi Bidang Pengendalian Pembangunan Otorita IKN mengeluarkan Surat Nomor 179/DPP/OIKN/III/2024 yang pada intinya memberikan waktu 7 hari kepada masyarakat adat Pamaluan untuk 'angkat kaki' dari tanah kelahiran mereka sendiri. Darmawi, tokoh Masyarakat Adat Maridan, terkejut ketika melihat plang-plang di wilayah adat Maridan bertulis 'Lahan Markas Besar (Mabes) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)'. Ia hanya bisa menggelengkan kepala, tanah yang menjadi bagian dari sejarah peradaban komunitasnya tiba-tiba diklaim oleh negara tanpa proses yang jelas.
Sibukdin, Kepala Adat Suku Balik di Kecamatan Sepaku, menyampaikan dengan tegas: 'Kami berharap mendapatkan pengakuan dari pemerintah secara khusus buat kami yang ada di situ. Enggak mungkin kami yang ada di situ, didatangkan orang dari luar, kami yang diusir dari situ.' Tetapi harapan itu sepertinya terlalu mahal. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, mengatakan bahwa masyarakat adat Suku Paser Balik bahkan sebelum wacana IKN sudah dalam kondisi terancam punah. 'Jika mereka tergusur, artinya pemerintah sendiri yang memusnahkan eksistensi kehidupan masyarakat adat di sana.'
Persis seperti Na'vi di Pandora. Diperkirakan sedikitnya 20.000 masyarakat adat akan menjadi korban proyek IKN di Kalimantan Timur, terbagi dalam 21 kelompok/komunitas adat. Tidak hanya rumah mereka yang dirampas, situs ritual adat pun terancam punah. Batu Tukar Nondoi dan Batu Badok, situs ritual adat Balik Sepaku, telah hancur akibat pembangunan bendungan Intake Sepaku. Bakau Lemit, tempat ritual yang sangat disakralkan di hutan mangrove kawasan Balik Pemaluan, juga terancam punah.
Ini bukan hanya tentang tanah atau rumah. Ini tentang identitas. Ini tentang sejarah. Ini tentang spiritual connection dengan alam yang telah dipelihara selama berabad-abad. Ketika Na'vi kehilangan Hometree, mereka kehilangan koneksi dengan Eywa. Ketika Suku Balik kehilangan wilayah adat mereka, mereka kehilangan segalanya. Dan kita sebagai bangsa Indonesia, dengan bangga menyebut proyek ini sebagai 'kemajuan.'
3. Pembantaian Tulkun Vs. Perburuan Paus: Sama-Sama Untuk Profit yang Tidak Berkelanjutan
Avatar: The Way of Water (2022) dan Fire and Ash (2025) menampilkan salah satu adegan paling brutal dalam franchise ini: perburuan Tulkun. Tulkun adalah makhluk laut cerdas dan damai yang hidup di lautan Pandora, memiliki bahasa dan budaya mereka sendiri, bahkan lebih tua dari Na'vi. Tetapi bagi Scoresby dan pemburu RDA, Tulkun hanyalah sumber Amrita, cairan anti-penuaan yang sangat berharga bagi manusia Bumi. Mereka memburu Tulkun dengan kapal raksasa, menembakkan harpun, mengekstrak cairan dari tubuh mereka, dan membuang bangkai mereka begitu saja ke laut. Tidak ada penghormatan. Tidak ada pertimbangan bahwa ini adalah makhluk hidup yang cerdas dan berperasaan. Hanya profit.
Sekarang bandingkan dengan apa yang terjadi di perairan Indonesia. Sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-20, laut Indonesia dahulu Hindia Belanda, menjadi lokasi favorit perburuan paus sperma oleh kapal-kapal dari Amerika Serikat dan Inggris. Peta global aktivitas perburuan paus yang dipublikasikan peneliti Charles H. Townsend dari New Bedford Whaling Museum menunjukkan tiga lokasi perburuan utama di perairan Indonesia: Molucca Passage Ground (sekitar Maluku Utara/Halmahera), Celebes Sea Ground (timur Kalimantan dan utara Sulawesi), dan Sulu Sea Ground (antara Kalimantan dan Filipina).
Meskipun International Whaling Commission (IWC) telah menetapkan moratorium penangkapan paus komersial sejak 1986, perburuan paus masih terus terjadi. Di Indonesia, tradisi perburuan paus di Desa Lamalera, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, masih berlangsung hingga hari ini. Masyarakat Lamalera berburu paus sperma (Physeter macrocephalus) dengan metode tradisional menggunakan kapal layar dan tombak. IWC mengklasifikasikan ini sebagai 'aboriginal subsistence whaling' atau perburuan tradisional untuk kebutuhan pangan masyarakat lokal yang masih diperbolehkan.
Inilah masalahnya: Indonesia belum memiliki regulasi yang jelas tentang apa itu 'perburuan tradisional' dan batasan-batasannya. Padahal, paus telah dimasukkan sebagai satwa yang dilindungi dan terlarang untuk diburu berdasarkan regulasi nasional. Namun pelarangan ini tidak efektif, masyarakat Lamalera tetap memburu paus karena kegiatan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya mereka. Yang lebih mengkhawatirkan, belum ada regulasi tentang PBR (Potential Biological Removal) atau ambang batas jumlah hewan yang boleh ditangkap agar tidak merusak keseimbangan populasi.
Paralel dengan perburuan Tulkun di Avatar sangatlah jelas. Di Pandora, Scoresby dan RDA membantai Tulkun untuk Amrita tanpa mempertimbangkan keberlanjutan populasi atau dampak ekologis. Di Indonesia, meskipun perburuan paus di Lamalera bersifat tradisional dan berskala kecil, tanpa regulasi yang jelas dan pengawasan ketat, kita berisiko mengulang kesalahan masa lalu ketika perburuan komersial nyaris membuat paus punah. Negara-negara seperti Jepang bahkan masih terus memburu paus dengan dalih 'penelitian ilmiah', padahal daging paus tersebut dijual di pasar dan restoran dan lebih dari 900 paus terbunuh setiap tahun, jauh melebihi batas yang diperbolehkan (150 paus).
Pelajaran dari Avatar seharusnya jelas: ketika kita memperlakukan makhluk hidup hanya sebagai komoditas untuk diekstrak, tanpa pertimbangan etis atau ekologis, kita tidak hanya merusak spesies tersebut, kita merusak seluruh ekosistem. Tulkun adalah bagian integral dari ekosistem laut Pandora. Paus adalah bagian integral dari ekosistem laut Bumi. Ketika mereka punah, seluruh rantai makanan akan runtuh.
Avatar Bukan Hanya Film, Ini Adalah Cermin Kita
Saya keluar dari bioskop setelah menonton Avatar: Fire and Ash dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, saya kagum dengan keindahan Pandora, dunia yang begitu kaya, begitu hidup, begitu layak untuk diperjuangkan. Di sisi lain, saya merasa frustrasi dan marah. Karena sementara jutaan orang di seluruh dunia menonton film ini dan bersimpati dengan Na'vi, kita sendiri mengabaikan 'Na'vi' di negara kita sendiri. Kita menangis ketika Hometree runtuh di layar, tetapi kita diam ketika hutan Sumatera dihancurkan. Kita marah ketika masyarakat pribumi Pandora tergusur, tetapi kita tidak peduli ketika Suku Balik kehilangan tanah leluhur mereka. Kita terpukau ketika Jake Sully menjadi Toruk Makto dan menyatukan semua klan melawan eksploitasi RDA, tetapi kita tidak melakukan apa-apa ketika 631 perusahaan ekstraktif menghancurkan ekosistem Sumatera.
Trilogi Avatar adalah tamparan keras bagi Indonesia. Ini bukan lagi tentang film atau hiburan, ini tentang masa depan kita. Data tidak berbohong: 604 orang meninggal dalam banjir Sumatera November 2025, kerugian ekonomi mencapai Rp68,67 triliun, 20.000 masyarakat adat terancam kehilangan tanah mereka di IKN, dan populasi paus terus menurun tanpa regulasi yang jelas. Ini adalah 'dosa ekologis' yang terus terakumulasi, dan suatu hari seperti yang digambarkan dengan sangat jelas di Avatar, alam akan membalas dengan cara yang tidak bisa kita kendalikan.
James Cameron tidak membuat film ini hanya untuk menghibur. Ia membuat Avatar sebagai peringatan. Sebuah cermin yang memaksa kita melihat keserakahan manusia dan konsekuensi yang akan kita hadapi jika kita terus mengeksploitasi alam tanpa batas. Pandora adalah metafora untuk Bumi. Na'vi adalah metafora untuk masyarakat adat di seluruh dunia. RDA adalah metafora untuk korporasi dan pemerintah yang memprioritaskan profit di atas segalanya.
Pertanyaannya sekarang adalah: apakah kita akan belajar dari Avatar, atau kita akan terus mengulang kesalahan yang sama sampai terlambat? Apakah kita akan terus menjadi penonton pasif yang hanya bisa menangis di bioskop, atau kita akan menjadi Jake Sully yang berani melawan sistem eksploitasi?
Saya berharap kita memilih yang kedua. Karena berbeda dengan film, kita tidak punya 'sequel' di dunia nyata. Ini bukan Hollywood di mana happy ending bisa ditulis ulang. Ini adalah satu-satunya Bumi yang kita punya. Dan satu-satunya Indonesia yang kita miliki. Jika kita terus membiarkan hutan digunduli, masyarakat adat tergusur, dan keanekaragaman hayati punah demi 'kemajuan' dan 'investasi', maka kita tidak berbeda dengan penjahat di film Avatar. Kita adalah RDA. Kita adalah Quaritch. Kita adalah Scoresby.
Nonton Avatar memang membuat kita merasa déjà vu dengan keadaan lingkungan Indonesia. tetapi déjà vu ini bukan hanya pengingat, ini adalah peringatan terakhir. Saatnya kita berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi pejuang. Seperti yang dikatakan Jake Sully: 'The Sky People have sent us a message... that they can take whatever they want. But we will send them a message... that this is our land!' Indonesia adalah tanah kita. Hutan kita. Laut kita. Masa depan kita. Dan sudah waktunya kita berjuang untuk melindunginya.
Penulis: Tsahik
Desainer: Deviana Cahya Lestari