https://www.disney.id/movies/avatar-fire-and-ash

 

Informasi Film

Judul: Avatar: Fire and Ash

Tahun Rilis: 2025 (Premiere: 1 Desember 2025 | Rilis Teatrikal: 19 Desember 2025)

Sutradara: James Cameron

Penulis: James Cameron, Rick Jaffa, Amanda Silver (Skenario) 

Produser: James Cameron, Jon Landau, Jamie Landau, Rae Sanchini, Maria Battle-Campbell

Durasi: 197 menit (3 jam 17 menit)

Studio atau Distributor: Lightstorm Entertainment / 20th Century Studios

 

Sinopsis

Fire and Ash mengambil setting beberapa minggu setelah kematian tragis Neteyam. Keluarga Sully masih berjuang melawan duka, sementara Neytiri mengembangkan kebencian mendalam terhadap manusia dan Lo'ak menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kakaknya, bahkan sempat mencoba bunuh diri, serta Jake mulai meragukan keimanannya pada Eywa. Di tengah kesedihan ini, mereka memutuskan mengirim Spider kembali ke High Camp bersama Wind Traders, pedagang nomaden yang berlayar dengan kapal raksasa di langit Pandora. Namun, perjalanan berubah menjadi mimpi buruk ketika konvoi diserang oleh Mangkwan, klan Na'vi brutal yang hidup di wilayah vulkanik, dipimpin tsahìk kejam bernama Varang. Mangkwan membakar kapal, menjarah, membantai para penyintas, bahkan memutus kuru (queue) beberapa Na'vi untuk memutus koneksi mereka dengan Eywa. Dalam kekacauan pertempuran udara, keluarga Sully terpisah. Kiri, Lo'ak, Tuk, dan Spider jatuh di hutan, sementara Jake dan Neytiri harus mencari mereka.

 

Sementara itu, Colonel Quaritch yang kini dalam tubuh Avatar Na'vi, terus memburu Spider untuk RDA. Dalam pencariannya, ia tiba di kampung Mangkwan dan bertemu Varang. Setelah menunjukkan kekuatan senjata api dan flamethrower kepada klan yang telah kehilangan kepercayaan pada Eywa akibat bencana vulkanik, Quaritch dan Varang membentuk aliansi berbahaya bahkan mengembangkan hubungan romantis. Varang mengungkapkan sejarah kelam klannya: bagaimana api menghancurkan rumah mereka dan Eywa tidak datang menyelamatkan mereka sehingga mereka beradaptasi dengan api dan menjadi perampok yang brutal. Kiri, yang terputus dari koneksi dengan Eywa sejak insiden di film sebelumnya hingga akhirnya mengetahui kebenaran tentang kelahirannya. 

 

Review

Di balik keindahan visualnya, Fire and Ash menyampaikan pesan yang tajam dan menohok tentang eksploitasi sumber daya alam oleh manusia. Pesan ini sangat relevan dengan krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini.

 

Sejak film pertama tahun 2009, Avatar selalu bercerita tentang konflik antara Jake Sully dan eksploitasi manusia yang rakus terhadap Pandora. Fire and Ash melanjutkan pola mengerikan ini: manusia tamak kembali memburu Tulkun (megafauna air) untuk mengambil cairan dari tubuh mereka mirip dengan The Way of Water. Pengulangan ini bukan kelemahan, justru cerminan realita menyedihkan: keserakahan manusia tidak pernah belajar dari kesalahan. Berapa banyak spesies harus punah? Berapa ekosistem harus hancur sebelum kita berhenti?

 

Hal yang paling menyayat hati adalah bagaimana film ini menampilkan mekanisme eksploitasi dengan brutal dan jujur. Kehadiran alat berat, seperti bulldozer dan ekskavator yang mengoyak rimba menunjukkan kehancuran dari pengabaian harmoni alam. Ini bukan sekadar menebang pohon atau menambang mineral, tetapi tentang membantai makhluk hidup secara sistematis demi profit. Perusahaan penambang membawa mantan tentara untuk 'keamanan' dan tidak akan berhenti, bahkan harus melakukan genosida, tujuannya agar mengamankan keuntungan pemegang saham.

 

Tulkun, makhluk cerdas yang hidup damai di lautan Pandora, dibantai paus di Bumi, diambil cairannya, sisanya dibuang begitu saja. Adegan ini mengingatkan kita pada perburuan paus komersial, pembalakan liar, dan penghancuran terumbu karang yang terjadi di planet kita. Setiap Tulkun yang dibantai adalah metafora untuk dibuat menjadi punah demi keuntungan ekonomi jangka pendek.

 

Avatar bukan sekadar fiksi ilmiah. Perlawanan antara perusahaan dan masyarakat pribumi hampir bukan fiksi sama sekali dalam beberapa dekade terakhir, suku pribumi di seluruh dunia telah berhadapan dengan perusahaan pertambangan, penebangan, minyak dan gas yang bertekad mengeksploitasi lahan mereka. Na'vi di Pandora adalah representasi suku-suku pribumi di Amazon, Borneo, Papua, dan berbagai belahan dunia yang terus berjuang mempertahankan rumah mereka dari eksploitasi.

 

Isu lingkungan yang dulu terasa gamblang kini disajikan lebih dewasa dan bernuansa. Fire and Ash terasa, seperti meditasi tentang tanggung jawab terhadap alam dan sesama makhluk hidup yang sangat relevan dengan dunia nyata saat ini. Di tengah krisis iklim global, kepunahan massal spesies, dan deforestasi masif, film ini mengingatkan bahwa setiap keputusan untuk mengeksploitasi alam memiliki konsekuensi. Setiap Tulkun yang dibantai. Setiap pohon yang ditebang. Setiap ekosistem yang dihancurkan. Itu semua adalah cerminan dari apa yang kita lakukan terhadap Bumi.

 

Kekuatan 

James Cameron sekali lagi membuktikan dirinya sebagai maestro sinema visual. Avatar: Fire and Ash menghadirkan spektakel visual yang benar-benar menakjubkan, bahkan setelah dua film sebelumnya telah menetapkan standar sangat tinggi.

 

Cameron menggunakan Fusion Camera System 3D yang dikembangkannya sendiri, menciptakan kedalaman visual luar biasa. Setiap frame terasa seperti jendela ke dunia lain. Penggunaan cahaya dan bayangan, terutama dalam sekuens api, menambah atmosfer yang mendalam. Gerakan kamera yang fluid dan skala yang megah membuat adegan aksi tetap jelas meskipun dalam pertempuran masif. Film ini benar-benar dirancang untuk layar IMAX 3D, pengalaman yang sepenuhnya imersif dan mengejutkan indra.

 

CGI yang Revolusioner. Ini mungkin CGI terbaik yang pernah ada di layar lebar. Karakter Na'vi terlihat sempurna. Pori-pori kulit, tekstur cat abu, rambut, bahkan sidik jari dalam cat tubuh mereka terlihat nyata. Interaksi antara karakter CGI dan aktor manusia dalam lingkungan digital sangat mulus. Performance capture tidak hanya menangkap gerakan, tetapi juga emosi halus di wajah para aktor, terutama Oona Chaplin sebagai Varang. Visual effects team menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memastikan setiap detail, dari cara karakter menarik tali hingga bagaimana angin menggerakkan rambut mereka terasa autentik.

 

Kelemahan

Meskipun Fire and Ash adalah mahakarya visual, film ini memiliki beberapa kelemahan naratif yang cukup mengganggu. Plot terasa terlalu familiar dan repetitif. Lagi-lagi kita melihat Quaritch sebagai antagonis utama dan ada subplot perburuan Tulkun untuk ekstraksi cairan berharga dari tubuh mereka, seperti di The Way of Water. Struktur cerita terasa remix dari film-film sebelumnya dengan setting yang berbeda, membuat beberapa momen kehilangan kejutan dan dampak emosionalnya.

 

Dengan durasi runtime yang mencapai 197 menit (hampir 3,5 jam), seharusnya ada cukup waktu untuk mengembangkan karakter-karakter baru. Namun, kenyataannya banyak karakter yang diperkenalkan tidak mendapat ruang untuk berkembang secara memadai. Varang, meskipun menarik sebagai antagonis yang kompleks, terasa underdeveloped. Kita tidak cukup memahami motivasinya di luar backstory singkat tentang trauma masa lalu. Wind Traders yang seharusnya menambah dimensi baru dunia Pandora hanya muncul sebentar dan tidak banyak memberikan kontribusi pada cerita utama.

 

Kesimpulan

Avatar: Fire and Ash adalah pengalaman sinematik yang luar biasa. Sebuah pesta visual yang memukau mata dan meditasi tentang hubungan manusia dengan alam. James Cameron sekali lagi membuktikan dirinya sebagai visioner kontemporer yang tak tertandingi dalam hal world-building dan inovasi teknologi sinema.

 

Film ini mungkin mengulang beberapa plot dari film sebelumnya, tapi justru di situlah kekuatannya sebagai kritik sosial. Keserakahan manusia memang berulang. Eksploitasi memang tidak pernah berhenti. Dan pembantaian makhluk hidup demi profit masih terus terjadi. Cameron tidak hanya membuat film, ia membuat peringatan keras tentang masa depan planet kita.

 

Keindahan Pandora dari hutan bioluminescent, lautan kristal, hingga wilayah vulkanik yang tandus mengingatkan kita akan keindahan Bumi yang semakin terancam. Jika kita terus mengeksploitasi alam dengan serakah, jika kita terus membantai makhluk hidup untuk keuntungan korporasi, maka kita tidak berbeda dengan penjarah Pandora dalam film ini.

 

Fire and Ash telah menghasilkan $96 juta secara global di IMAX dan diproyeksikan menjadi rilis Hollywood terbesar IMAX tahun ini. Film ini dirancang untuk pengalaman teatrikal premium jika kamu menghargai visual effects cutting-edge dan ingin merasakan Pandora secara imersif, menonton di IMAX 3D atau Dolby Cinema adalah suatu keharusan. Premium formats menjadi faktor besar meski konsumen price-sensitive.

 

Data menunjukkan interest lebih rendah dari penonton usia 55+ (hanya 7% dari total audience). Jika kamu mencari film dengan pace cepat atau kurang tertarik dengan runtime panjang (197 menit), mungkin film ini kurang cocok. Namun, bagi mereka yang menghargai world-building detail, cinematography artistik, dan naratif yang lebih contemplatif tentang war dan grief, Fire and Ash adalah pengalaman yang sangat memuaskan.

 

Saatnya kita belajar dari Na'vi, menjaga keseimbangan alam bukan pilihan, tapi keharusan untuk keberlangsungan hidup semua. Fire and Ash adalah pengingat visual yang memukau bahwa planet kita layak diperjuangkan, dan masih ada waktu untuk mengubah jalan kita, jika kita mau.

Film ini bukan hanya tentang Pandora, ini tentang masa depan Bumi kita.

 

Rating Akhir:  (4.7/5) - Masterpiece visual dengan pesan yang kuat, meski plot terasa familiar.

 

Penulis: Tsahik

Desainer: Irfan Fadhilah Husaeni